Mengasuh anak usia dini tentu penuh dengan dinamika, termasuk saat menghadapi fase tantrum atau emosi yang meluap-luap. Sangat wajar bagi anak-anak untuk sesekali merasa frustrasi karena mereka masih dalam tahap belajar mengelola perasaan dan cara berkomunikasi.
Di samping faktor psikologis atau lingkungan sekitar, terdapat aspek fisik yang terkadang luput dari perhatian, yakni kondisi sistem pencernaannya. Ketika anak rewel, mudah menangis, atau tampak gelisah, ada kalanya hal tersebut merupakan sinyal alami bahwa perutnya sedang merasa kurang nyaman.
Mengenal Gut-Brain Axis (Sumbu Usus-Otak)
Dalam literatur kesehatan modern, saluran pencernaan sering dikaitkan dengan fungsi kognitif dan emosi melalui konsep Gut-Brain Axis, yaitu jalur komunikasi dua arah antara sistem saraf di otak dan saraf di usus.
Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients (2021) mencatat bahwa keseimbangan mikrobioma (bakteri baik) di usus dapat memengaruhi produksi neurotransmitter, yakni senyawa kimia pembawa pesan di otak. Sebagai contoh, sebagian besar hormon serotonin yang kerap dikaitkan dengan pengaturan suasana hati (mood), diproduksi di area saluran cerna.
Artinya, ketika kesehatan pencernaan anak senantiasa dijaga, produksi hormon yang mengatur emosi ini dapat didukung dengan lebih baik. Pencernaan yang nyaman berpotensi membantu anak merasa lebih tenang secara fisik, yang pada gilirannya dapat mendukung suasana hati yang lebih stabil.
Asam Amino Pendukung Kesehatan Usus
Untuk membantu memelihara fungsi saluran cerna, tubuh membutuhkan variasi nutrisi. Salah satu komponen yang sering dipelajari manfaatnya terhadap lapisan dinding usus adalah asam amino, khususnya glutamine.
Glutamine dikenal sebagai salah satu sumber energi utama bagi sel-sel penyusun lapisan usus. Asupan nutrisi yang memadai diharapkan dapat mendukung fungsi usus dalam menyerap makanan dengan lebih baik dan memelihara keseimbangan lingkungan pencernaan. Dengan kondisi usus yang terjaga, rasa tidak nyaman pada perut anak dapat diminimalkan.
Kaldu Tulang Ayam: Alternatif Asupan yang Ramah di Perut
Memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup terkadang menjadi tantangan, terlebih jika ia sedang memasuki fase memilih-milih makanan (picky eater). Sebagai alternatif asupan yang hangat dan umumnya mudah diterima oleh lidah anak, kaldu tulang ayam (chicken bone broth) bisa menjadi pilihan menu harian.
Secara alami, kaldu yang diolah dari bahan berkualitas mengandung berbagai asam amino (termasuk glutamine dan glycine), kolagen, serta mineral. Bentuknya yang cair menjadikan kaldu lebih mudah dicerna oleh lambung anak, sehingga tidak memberatkan kerja sistem pencernaan.
Memperhatikan Standar Pengolahan Kaldu
Agar manfaat dari nutrisi alaminya lebih optimal, proses pengolahan kaldu sangatlah menentukan. Kaldu yang disarankan umumnya dimasak dengan metode pemanasan perlahan (slow-cooked) agar sari pati dari tulang dapat terekstraksi dengan baik ke dalam kuah.
Bagi orang tua yang mencari kepraktisan untuk mendukung rutinitas gizi keluarga, saat ini banyak tersedia pilihan kaldu murni di pasaran. Sebagai salah satu contoh referensi produk yang menerapkan standar pengolahan tersebut adalah OMA Chicken Bone Broth.
Produk semacam ini umumnya diproses menggunakan ayam kampung tanpa paparan antibiotik, serta dimasak secara perlahan pada suhu di bawah 100°C selama 24 jam. Dengan formulasi yang transparan tanpa penambahan MSG buatan maupun pengawet, kaldu murni dapat menjadi opsi yang relatif lebih menenangkan bagi orang tua untuk dihidangkan setiap hari.
Menjaga kesehatan pencernaan merupakan salah satu langkah awal yang baik dalam mendukung kesejahteraan anak secara menyeluruh. Dengan perut yang nyaman dan nutrisi yang tercukupi, si kecil berpotensi menjalani aktivitas kesehariannya dengan suasana hati yang lebih ceria.

