March 18, 2026

Gangguan pencernaan, khususnya penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), kini menjadi keluhan kesehatan yang makin akrab di telinga masyarakat perkotaan. Pola hidup yang serba cepat seringkali dituding sebagai biang keladinya.

Di tengah tren pemulihan kesehatan secara alami, konsumsi kaldu tulang atau Bone Broth kembali populer. Namun, ada satu pertanyaan yang sering mengganjal di benak penderita maag: “Aman tidak sih? Bukankah pembuatannya menggunakan cuka apel yang asam?”

Kekhawatiran ini wajar, mengingat penderita GERD biasanya menghindari makanan asam. Artikel ini akan membedah fakta ilmiahnya secara sederhana.

Mengapa Butuh Cuka untuk Mengambil Mineral?

Secara alami, tulang hewan (seperti tulang ayam) adalah “brankas” yang sangat keras. Di dalamnya tersimpan kekayaan mineral penting seperti Kalsium, Magnesium, dan Fosfor yang sangat dibutuhkan tubuh.

Namun, merebus tulang dengan air biasa saja seringkali tidak cukup untuk mengeluarkan mineral-mineral tersebut secara optimal. Di sinilah peran cuka apel dibutuhkan.

Dalam prinsip ilmu pangan (food science), penambahan sedikit asam lemah seperti cuka apel berfungsi sebagai “katalisator”. Ia membantu proses ekstraksi agar pori-pori tulang sedikit melunak, sehingga mineral di dalamnya lebih mudah larut ke dalam air kuah.

Proporsi Mikro dan Keseimbangan Rasa

Penting untuk dipahami bahwa ada perbedaan besar antara meminum cuka apel mentah dengan mengonsumsi kaldu yang dimasak dengan sedikit cuka apel.

Ketakutan pasien GERD biasanya didasari pada efek iritasi saat meminum larutan cuka secara langsung. Namun, dalam pembuatan bone broth yang berkualitas, ceritanya berbeda.

Kuncinya ada pada proporsi. Dalam resep yang autentik, jumlah cuka yang digunakan sangatlah sedikit (mikro) dibandingkan dengan volume air yang dimasak. Selama proses perebusan panjang minimal 24 jam (slow cooking), profil rasa asam dari cuka akan melebur dan tertutup sepenuhnya oleh profil rasa gurih (umami) yang kuat dari kaldu.

Hasil akhirnya adalah kaldu yang kaya mineral dan terasa nyaman di lidah, bukan cairan asam yang menyengat.

Aman untuk Penderita Asam Lambung

Sebuah tinjauan dalam literatur nutrisi Journal of Food Composition and Analysis mendukung prinsip bahwa proses pengolahan pangan dapat mengubah profil sensorik bahan asalnya.

Dalam konteks ini, konsentrasi cuka yang digunakan hanyalah sedikit sebagai alat bantu masak. Residu rasanya telah terintegrasi dengan baik ke dalam kaldu.

Sebagai contoh di industri pangan lokal, produsen seperti OMA Bone Broth menerapkan metode masak 24 jam dengan takaran yang presisi. Fokus utamanya adalah menghasilkan kepadatan nutrisi mineral yang maksimal. Justru, mineral seperti Magnesium yang berhasil diekstrak tersebut memiliki peran penting dalam menenangkan otot pencernaan dan menyeimbangkan kondisi tubuh.

Kesimpulannya, selama diolah dengan prosedur yang tepat, kaldu tulang tetap menjadi rekomendasi asupan nutrisi yang aman dan mendukung pemulihan, termasuk bagi mereka yang memiliki sensitivitas pada lambung.

About the author 

Ria

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>